Direktur Pengadaan PLN Supangkat Iwan Santoso mengatakan, angka itu dihasilkan dari perkiraan cadangan batu bara Indonesia saat ini. Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026, cadangan terbukti dan terkira batu bara hingga akhir 2016 mencapai 28,45 miliar ton. Kondisi tersebut membuat Indonesia sebagai negara dengan cadangan batu bara terbesar ke-delapan di dunia saat ini.
Sementara itu, rata-rata konsumsi batu bara untuk pembangkit mencapai 86 juta ton per tahun. Jika konsumsi terbilang konstan, maka cadangan tersebut dianggap bisa menerangi Indonesia selama tiga abad mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya di Indonesia, penggunaan batu bara di negara lain pun bisa bertahan dalam periode yang tak singkat. Ia mencontohkan China, sebagai negara dengan cadangan batu bara terbesar ketiga akan dapat menggunakan batu bara sebagai tenaga pembangkit listrik hingga 250 tahun ke depan. Padahal, penggunaannya terbilang besar, yakni mencapai 3,78 miliar ton di tahun 2016.
"Meski batu bara ini jadi tulang punggung, namun jumlahnya betul-betul terbatas. Sebaiknya memang di-save untuk penggunaan di masa depan," tambahnya.
Meski konsumsi meningkat, tenaga batu bara masih potensial karena Indonesia memiliki sumber daya batu bara yang belum berubah status menjadi cadangan terbukti sebesar 123,52 miliar ton. Ini membuat batu bara sebagai sumber utama energi primer di masa depan karena gas alam diperkirakan sudah mulai defisit di tahun 2020 yang akan datang.
"Lagipula batu bara adalah energi yang murah, yang dibutuhkan tentu adalah kesinambungan pasokan," pungkas Iwan.
Hingga akhir tahun 2016, kapasitas terpasang PLTU di Indonesia mencapai 28.090 Megawatt (MW). Sementara itu, di dalam RUPTL disebutkan bahwa akan ada tambahan PLTU sebesar 31.900 MW dalam kurun waktu 10 tahun mendatang.