Beberapa negara yang secara resmi telah memutus hubungan diplomatik tersebut, diantaranya Arab Saudi, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Mesir, Libya, dan Yaman. Pemutusan hubungan ini, termasuk hubungan dagang dan transportasi dengan Qatar.
"Kami percaya ini akan memperburuk kerentanan eksternal Qatar dan bisa menekan pertumbuhan ekonomi, serta metrik fiskal," papar Analis Kredit Primer, Benjamin Young dalam risetnya, dikutip Jumat (9/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami juga bisa menurunkannya, jika lini pembiayaan eksternal Qatar ditarik," terang Benjamin.
Seperti diketahui, sikap boikot yang dilakukan oleh beberapa negara kepada Qatar disebabkan oleh kedekatan Qatar dengan Iran dan adanya dugaan Qatar membiayai kegiatan terorisme. "Kami mencatat bahwa otoritas Qatar secara keras menyangkal hal ini," jelasnya.
"Selanjutnya larangan terbang atau pembatasan terbang dapat berimplikasi signifikan bagi Qatar Airways," ungkap Benjamin.
Profitabilitas perusahaan yang rusak akibat putuskan permintaan regional, investasi terhambat, dan kurangnya kepercayaan investor untuk berinvestasi di Qatar diperkirakan akan menjadi penyebab perlambatan ekonomi Qatar.
Adapun, S&P dapat kembali memberikan outlook stabil jika boikot yang dilakukan kepada Qatar hanya dilakukan dalam waktu jangka pendek atau pemerintah Qatar dapat menjaga utangnya seperti prediksi S&P.