Ditambah lagi, momentumnya terasa pas saat ramadan ini demi puncak perayaan lebaran nanti atau persiapan ajaran baru anak sekolah. Di pertokoan emas di Pasar Rawalumbu, Bekasi, misalnya, tingkat penjualan emas saat ini disebut tertinggi ketimbang bulan-bulan sebelumnya.
Salah seorang pedagang emas Rohman (40 tahun) menyebut, harga yang sedang tinggi dibandingkan bulan sebelumnya membuat masyarakat ramai-ramai menjual perhiasan emasnya. "Harga emas lagi tinggi, orang-orang banyak manfaatkan untuk jual," ujar Rahman kepada CNNIndonesia, akhir pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Niken Andonowarih SEVP Retail Banking PT Bank Syariah Mandiri mengungkapkan, laju aktivitas jual beli emas, khususnya perhiasan memang banyak terjadi selama ramadan.
Hal ini tidak terlepas dari budaya orang Indonesia yang masih menganggap perhiasan emas merupakan simbol eksistensi dalam lingkungan sosial.
"Tipikal orang Indonesia masih senang menggunakan perhiasan emas sebagai aksesoris untuk melengkapi fesyen. Memang, saat ini atau saat menerima tunjangan hari raya di minggu kedua, mungkin dijual. Tapi, menjelang lebaran, akan beli lagi emas, walaupun tidak semua begitu," imbuhnya.
PT Pegadaian (Persero) mencatat tren gadai biasanya meningkat sebelum puasa dan setelah lebaran. Menurut Manajer Komunikasi Perusahaan PT Pegadaian, Basuki Tri Andayani, sejumlah perhiasan yang paling sering digadaikan masyarakat, antara lain gelang, kalung, dan anting.
Selain perhiasan, ia melanjutkan, kendaraan bermotor, seperti roda dua juga kerap menjadi barang yang digadaikan. Namun demikian, jumlahnya masih sangat sedikit.
Hingga Maret 2017, penyaluran pembiayaan Pegadaian mencapai Rp 10,53 triliun. Jumlah tersebut naik dari penyaluran pembiayaan pada Januari 2017 sebesar Rp 9,8 triliun dan Februari 2017 sebesar Rp 9,5 triliun. Pada Mei 2017, pembiayaan kembali menurun menjadi hanya Rp 9,61 triliun. (bir)