"Terus terang, saya tidak yakin Dirut Garam melakukan tindak pidana seperti yang dituduhkan Bareskrim. Kami masih terus menelusuri, kami memperkirakan ada kesalahan administrasi," ujarnya di Kantor Kementerian BUMN, Senin (12/6) malam.
Ia menjelaskan, memberikan penugasan impor atas dasar permintaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) lantaran produksi garam tahun lalu yang rendah akibat musim hujan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengaku, sempat berkunjung ke kantor PT Garam (Persero) di Sumenep, Madura, Selasa pekan lalu. Dalam kunjungannya pekan lalu itu pun, ia menyaksikan langsung operasional PT Garam (Persero) yang semakin membaik.
Upaya ini dilakukan Boediono bersama masyarakat setempat dan mampu meraup pendapatan bersih hingga Rp50 juta per bulan. "Kemarin bisa dia tata rapih itu, tapi kok tiba-tiba ia kena kasus ini. Saya betul-betul kaget. Kok kenapa tiba-tiba keluarnya garam industri. Makanya, saya ingin pelajari betul," tegas Rini.
Sebelumnya diberitakan, Bareskim Polri menangkap Boediono di rumahnya di kawasan Jati Bening, Bekasi. Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya membenarkan hal tersebut.
PT Garam selaku BUMN menerima penugasan dari Menteri BUMN untuk mengimpor garam konsumsi dalam rangka pemenuhan kebutuhan garam konsumsi nasional. Namun, sesuai Surat Persetujuan Impor yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan, yang diimpor oleh PT Garam adalah garam industri dengan kadar NaCL di atas 97 persen.
Padahal, kata Agung, sebagaimana tertuang dalam Pasal 10 Permendag Nomor 125 Tahun 2015 tentang ketentuan importasi garam, bahwa importir garam industri dilarang memperdagangkan atau memindahtangankan garam industri kepada pihak lain.
"Sementara, yang dilakukan PT Garam bukan hanya memperdagangkan atau memindahtangankan, bahkan mengemas menjadi garam konsumsi untuk dijual kepada masyarakat," pungkasnya.