Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menilai, konflik tersebut tak menyurutkan optimisme pemerintah dalam mengerek target pertumbuhan ekonomi di tahun depan yang diproyeksikan bisa mencapai 5,4 persen sampai 6,1 persen.
"Kondisi ekonomi 2017-2018 akan lebih baik meskipun masih ada risiko dari middle east (negara-negara Timur Tengah), yakni Qatar dengan beberapa tetangganya yang akan memberikan sentimen paling tidak dari sisi harga minyak dan gas (migas)," ujar Sri Mulyani, Selasa (13/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada juga dilihat oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo. Menurut Agus, dampak perekonomian yang ditimbulkan oleh konflik politik Qatar tersebut tak besar pada sektor perdagangan Indonesia.
Yang terbaru, akibat masalah diplomatik tersebut, lembaga pemeringkat, Standard and Poor's (S&P) menurunkan peringkat utang Qatar dari AA menjadi AA-. S&P mengambil langkah tersebut setelah nilai tukar riyal, mata uang Qatar, terjun ke level terendah dalam 11 tahun terakhir.