"Seharusnya ini momen yang tepat untuk meningkatkan penjualan. Biasanya setelah dapat THR, masyarakat mulai percaya diri untuk berbelanja," ujar Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/6).
Menurut proyeksinya, dengan pencairan THR dan momen puncak Ramadan pada Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 25-26 Juni 2017, pertumbuhan penjualan ritel bisa meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat dibandingkan bulan biasa, seperti sebelum Ramadan pada April lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor kecocokan model fesyen dan melihat keuangan, dinilai Tutum menjadi alasan mengapa masyarakat cenderung memenuhi kebutuhan produk fesyen baru di beberapa hari jelang Lebaran.
"Mungkin (sudah tumbuh) 10-20 persen sejak awal Ramadan karena pembelian meningkat untuk stok, mereka kan harus penuhi kebutuhan untuk berbuka puasa," kata Tutum.
Selain itu, pertumbuhan penjualan ritel makanan dan minuman yang sudah mengalami pertumbuhan ditopang oleh kebutuhan pelaku usaha lainnya, misalnya pengelola hotel, restoran, dan pusat perbelanjaan. Pasalnya, mereka turut menjadi serbuan masyarakat untuk acara buka puasa bersama.
Bila THR dapat mendongrak pertumbuhan ritel di Ramadan ini, Tutum menyebutkan bahwa pertumbuhan ritel diperkirakan akan cukup terselamatkan sampai akhir tahun, meski target pertumbuhan sebesar 10 persen masih dirasa sulit.
Sementara, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi Lukman mengatakan, untuk industri makanan dan minuman (mamin) di dua pekan pertama Ramadan memang belum bergairah, namun capaiannya dirasa tak begitu berbeda dengan Ramadan tahun lalu.
Adhi melihat, faktor daya beli masyarakat yang melemah menjadi sumber tak terlalu suburnya penjualan mamin, khususnya yang ada di para pelaku ritel.
"Ini sedikit aneh, saya tidak tahu waktunya saja yang bergeser atau bagaimana. Tapi diharapkan kalau THR turun, daya beli jadi meningkat lagi," pungkasnya.
Sementara untuk industri mamin, Adhi memperkirakan sampai akhir tahun mampu mencapai kisaran 8,0 persen. Sedangkan sampai saat ini masih sekitar 7,0 persen.