“Hanya butuh Rp20 ribu, kita bisa berjam-jam nongkrong di sana, nggak diganggu sama mbak penjualnya. Tapi sekarang banyak yang sudah mulai tutup,” ujar Lidia, salah satu pengunjung Sevel kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (17/6).
Selain banyak gerai yang mulai tutup, hampir semua gerai Sevel yang tersisa, tak memiliki banyak produk lagi untuk dijual. Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com pada sejumlah gerai Sevel yang masih buka, hanya tersisa tiga hingga empat rak dengan jumlah produk yang dijual sangat terbatas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sudah sekitar satu bulan ini memang banyak yang kosong (rak-nya),” ujar salah satu pegawai Sevel.
Foto: CNN Indonesia/Rizky Sekar AfrisiaGerai 7-Eleven |
Adapun induk usah Sevel, PT Modern Internasional Tbk (MDRN) dalam publikasinya di Bursa Effek Indonesia, tercatat mengalami kerugian sebesar Rp477 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Kerugian tersebut mencapai lebih dari separuh kerugian perseroan pada sepanjang tahun lalu yang mencapai Rp663 miliar.
Modern Internasional pun kemudian berencana menjual Sevel pada PT Charoen Pokphand Restu Indonesia (CPRI) lantaran bisnisnya terus merugi akibat kompetisi pasar yang tinggi. Padahal bisnis waralaba tersebut membutuhkan suntikan modal besar untuk mengembangkan bisnisnya di masa sepan. Adapun nilai transaksi penjualan waralaba tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp1 triliun.
“Alasan penjualan jaringan bisnis 7-Eleven di Indonesia adalah karena usahanya merugi, sebagai akibat dari kompetisi pasar yang tinggi,” terangnya.
Sayangnya, rencana transaksi penjualan Sevel tersebut batal dilaksanakan. Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada 5 Juni lalu, Chandra, menjelaskan batalnya transaksi tersebut karena tidak tercapainya kesepakatan antara kedua belah pihak.
Namun, hingga kini, induk usaha Sevel tersebut belum menjelaskan langkah lebih jauh yang akan dilakukannya pasca pembatalan transaksi tersebut.
Foto: CNN Indonesia/