Direktur Utama Sofyan Basir menjelaskan, keputusan melakukan sekuritisasi aset secara bertahap ini karena melihat kondisi likuiditas pasar yang sedang ketat. Pasalnya, tidak hanya PLN yang mencari pendanaan di pasar, melainkan juga beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain.
"Kayaknya pasar lagi tight (ketat), karena saat bersamaan BUMN cari dana," ucap Sofyan, Senin (19/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hidupmu kan tidak bisa lepas dari elektrifikasi," imbuhnya.
"Tergantung kebutuhan, kalau langsung ambil besar untuk apa. Jadi bertahap, nanti kalau butuh enam bulan lagi atau tiga bulan lagi," papar Sofyan.
Ia menambahkan, dana raihan sekuritisasi aset itu akan digunakan sebagai dana cadangan pengembangan proyek, misalnya menambah transmisi listrik.
Nantinya, pembangunan tersebut berada di bawah anak usaha PLN, PT Indonesia Power. Namun, Sarwono menyebut, hasil dana sekuritisasi aset tidak akan cukup untuk membiayai keempat proyek tersebut secara tuntas.
Meski begitu, perusahaan masih belum memiliki rencana untuk menambah jumlah aset yang akan disekuritisasi. Menurut Sarwono, hal itu akan dilakukan jika peminat dari sekuritisasi PLTU Suralaya membludak.