Bangun Transmisi, PLN Pakai Duit Pinjaman dari Bank Dunia

Elisa Valenta Sari , CNN Indonesia | Selasa, 20/06/2017 07:00 WIB
Bangun Transmisi, PLN Pakai Duit Pinjaman dari Bank Dunia PLN telah mendapat pinjaman dari Bank Dunia sebesar US$4 miliar. Dana ini akan dimanfaatkan oleh PLN untuk pembangunan transmisi dan lainnya. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT PLN (Persero) tengah mengerjakan proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt (MW), di mana membutuhkan dana yang tidak sedikit. Perusahaan setrum ini berencana menggunakan dana pinjaman dari Bank Dunia.

Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan, untuk merealisasikan proyek listrik tersebut, PLN membutuhkan dana kurang lebih Rp100 triliun. Dari total dana tersebut, PLN mengalokasikan anggaran sebesar 50 persen untuk membangun pembangkit listrik.

"Ada pembangkit, transmisi distribusi sama gardu. Memang kalau kita pilah-pilah itu kurang lebih sekitar 50 persen dari Rp100 triliun untuk pembangkit, sisanya untuk transmisi sama distribusi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (19/6) malam.

Untuk merealisasikan target pendanaan tersebut, PLN akan menghimpun dana dari luar kas internal perusahaan. Adapun beberapa skema yang ditempuh yakni dengan pinjaman dari pihak perbankan, penerbitan surat utang, dan sekuritisasi aset.

Dari pinjaman perbankan, Sarwono mengatakan bahwa PLN telah mendapat pinjaman dari Bank Dunia sebesar US$4 miliar. Dana ini akan dimanfaatkan oleh PLN untuk pembangunan transmisi dan lainnya.

"Tapi belum kami tarik semua. Masih kecil, karena ini jalan terus. Transmisi kan tidak bisa seketika, jadi itu berjalan terus, US$4 miliar itu hingga tahun 2019," ujarnya.

Selain itu, PLN berusaha menjalankan skema pendanaan baru, yaitu sekuritisasi aset, melalui instrumen Efek Beragum Aset (EBA). Dalam skema ini PLN akan mengonversi pendapatan di masa depan menjadi surat berharga di awal untuk mendapatkan arus kas.

PLN merencanakan sekuritisasi aset dari anak perusahaan PT Indonesia Power. "Yang diagunkan itu piutang, piutang perusahaan yang dijual ke anak perusahaan PLN itu, dijaminkan untuk mendapatkan dana," tambah dia.

Sebelumnya, PLN telah menerbitkan Penawaran Umum Berkelanjutan II Obligasi Berkelanjutan dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan.

Target dana yang dihimpun maksimal sebesar Rp10 triliun untuk, yang terdiri dari Rp8 triliun untuk obligasi dan Rp2 triliun untuk sukuk ijarah. Namun untuk tahap I, target dana untuk Obligasi Berkelanjutan II sebesar Rp1,6 triliun dan Rp400 miliar untuk Sukuk Ijarah Berkelanjutan II.