Wakil Sekretaris Jenderal Astindo Pauline Suharno mengungkapkan, perbedaan tren ini karena libur lebaran anak sekolah dan hari lebaran yang sangat berdekatan. Sehingga, destinasinya bisa saja disamakan. Berbeda dengan tahun lalu, di mana jarak libur sekolah dan lebaran tidak sedekat seperti tahun ini.
"Kalau tahun lalu, perginya bisa dua kali, libur sekolah dan lebaran. Tahun ini, digabung, tujuan juga digabung. Jadi, tahun ini tiga kali lipat tidak sampai," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (20/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, penjualan terbagi, tidak menumpuk. Dengan beli jauh-jauh hari, ketersediaan kursi kelas ekonomi masih ada, kalau sudah dekat hari keberangkatan kursi ekonomi sudah kosong pasti," papar dia.
Sementara itu, untuk tingkat okupansi pesawat per hari jelang lebaran ini dipastikan mencapai 100 persen. Kondisi ini berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya, di mana tingkat okupansi pesawat per hari hanya sekitar 60-80 persen.
"Jadi, maskapai kan menambah kursi pesawat, kapasitas pesawat lebih banyak," terang dia.
Berdasarkan pantauannya, seluruh tiket untuk tujuan kota mudik, seperti Yogyakarta, Solo, dan Surabaya sudah tak tersedia saat ini. Begitu juga dengan tiket kepulangan setelah lebaran. Namun, untuk tiket kepergian dari Jakarta ke beberapa kota tersebut pada 1-2 hari setelah lebaran masih tersedia.
Kendati demikian, tingkat kepadatan untuk keberangkatan dengan tujuan liburan tersebut sudah mulai terlihat sejak minggu lalu. Sehingga, Pauline memprediksi, keberangkatan jelang lebaran nanti tidak akan terlalu padat karena sebagian masyarakat telah meninggalkan ibu kota.
"Jadi, terbagi. Sudah banyak yang berangkat, jadi tidak hanya besok atau lusa," tutup Pauline.