Proyeksi penurunan laba tersebut berbanding terbalik dengan kebijakan pemerintah yang menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk pengguna listrik berkapasitas 900 voltampere (VA) secara tiga tahap pada 1 Januari, 1 Maret, dan 1 Mei.
Alih-alih mendulang laba dengan mengerek tarif listrik, perusahaan listrik raksasa itu malah memproyeksikan penurunan laba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sofyan enggan menjelaskan lebih rinci dari mana proyeksi penurunan laba tersebut, entah dari beban subsidi yang membengkak ditanggung perusahaan atau hanya karena masih mandeknya pencairan ganti subsidi dari pemerintah ke perusahaan pelat merah itu.
"Sekarang kami lagi minus Rp1,9 triliun tapi kalau rugi laba masih aman. Maksudnya, bulan ini bisa saja untung, dalam bulan depan rugi, bulan depannya lagi untung tapi kumulatifnya masih untung," ujar Sofyan di acara halalbihalal di kawasan Kuningan, Minggu (25/6).
Sofyan memprediksi, secara kumulatif Januari-Juni atau semester I 2017, perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu masih berhasil bersandar di kategori memiliki kecukupan laba. Adapun nilai labanya diperkirakan tak jauh berbeda dengan catatan laba terakhirnya dan masih positif.
Meski kini ada proyeksi penurunan laba perusahaan, kata Sofyan, PLN masih melihat ada potensi peningkatan laba sampai akhir tahun dari pergerakan harga minyak mentah (Indonesia Crude Palm Oils/ICP) dan harga batu bara.
"Siapa tahu ICP turun, batu bara turun lagi. Kalau memang turun terus maka kami bisa impas lagi. Jadi, kami tidak melakukan penyesuaian bulanan," imbuh Sofyan.
Sementara itu harga batu bara untuk kontrak pengiriman Juni 2017 di ICE Future Exchange tercatat mencapai US$73,85 per metrik ton, atau tergerus sekitar 0,81 persen dalam sepekan terakhir di Mei lalu.
Sofyan enggan menyinggun soal proyeksi beban keuangan perusahaan rentang enam bulan ke depan. Dia menyebut dalam jangka waktu enam bulan ke depan, pemerintah telah memutuskan untuk menahan tarif listrik berkapasitas 900 VA, sehingga tak akan ada kenaikan listrik sampai akhir tahun.
"Kalau kami lihat memang nampaknya kami bisa tahan sampai akhir tahun (dengan kebijakan pemerintah menahan tarif)," kata Sofyan.