Direktur Fitch Ratings Indonesia Olly Prayudi mengatakan, pihaknya meyakini penutupan toko oleh pemegang waralaba, PT Modern Internasional Tbk (MDRN) menggarisbawahi risiko peraturan yang berkembang dan pentingnya model bisnis yang solid untuk profil utang ritel.
Seperti diketahui, Modern Internasional menyatakan akan menutup semua gerai 7-Eleven di bawah pengelolaannya pada 30 Juni 2017 karena kurangnya sumber daya untuk mendanai operasional tokonya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Model bisnis Internasional Internasional untuk rantai 7-Eleven di Indonesia dirusak oleh perkembangan peraturan yang kurang kondusif," ujar Olly dalam keterangan resmi, dikutip Senin (3/7).
"Hal itu terjadi setelah Kementerian Perdagangan pada April 2015 yang melarang penjualan minuman beralkohol untuk ritel modern dan kecil, yang berkontribusi sekitar 15 persen dari penjualan Modern Internasional," ungkap Olly.
Penutupan toko pada akhirnya menghasilkan penurunan penjualan sebesar 28 persen dan munculnya rugi sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi di tahun 2016, sehingga profil keuangan perusahaan tidak berkelanjutan.
"Fitch percaya bahwa masalah ini diperburuk dengan tidak adanya perbedaan yang jelas antara gerai 7-Eleven dengan restoran cepat saji dan restoran menengah di Indonesia," jelasnya.
Olly menjelaskan, model bisnis dan risiko dari gerai 7-Eleven serupa dengan restoran. Salah satu persamaannya adalah menyediakan makanan dan minuman siap saji dengan tempat duduk dan Wi-Fi gratis.
"Akibatnya, jaringan gerai tersebut menghadapi persaingan yang ketat dari restoran cepat saji dan penjual makanan tradisional, yang masih sangat populer di kalangan konsumen Indonesia," ujarnya.
"Toko 7-Eleven juga memiliki biaya sewa yang lebih tinggi daripada toko serba ada lainnya karena gerai tersebut menawarkan area tempat duduk, yang membutuhkan area toko yang lebih besar," jelasnya.
Selain itu, ia menilai sebagian besar toko 7-Eleven di Jakarta berada di daerah utama yang memberikan tarif sewa tinggi. Biaya sewa toko Modern Internasional meningkat sekitar 28 persen di tahun 2016, meski telah terjadi sejumlah besar penutupan toko sejak 2015.