Ia menjelaskan, sebelumnya pemerintah memproyeksi inflasi Juni 2017 hanya sekitar 0,4 persen sampai 0,5 persen, atau lebih rendah dari inflasi Juni 2016 sebesar 0,66 persen.
Namun, menurutnya, capaian inflasi secara tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 2,38 persen dan secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 4,37 persen, masih sesuai dengan target pemerintah sampai akhir tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun sampai akhir tahun, Darmin memproyeksi bahwa inflasi akan mulai mengalami penurunan secara berkala mulai Juli mendatang. Pasalnya, dari sisi komponen tingkat harga yang diatur oleh pemerintah (administered price), tak lagi memberikan ancaman bagi inflasi.
Sementara dari sisi gejolak harga pangan (volatile foods), Darmin menegaskan bahwa upaya penekanan harga dan menjaga kestabilan harga pangan yang sudah dilakukan sejak awal tahun ini, akan terus dilanjutkan hingga penghujung tahun ini.
"Ya, kami mengharapkan iya (inflasi terjaga rendah) karena kami masih terus mengurusi supaya inflasi pangan itu terutama tidak terlalu tinggi," kata Darmin.
Sedangkan, berkaca pada data BPS, kelompok yang mengalami inflasi tinggi, yaitu kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,27 persen, kelompok sandang 0,78 persen, dan perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,75 persen.
"Kelihatannya perumahan, kemudian pakaian, itu yang paling tinggi, baru kemudian pangan," imbuh Darmin.