Menteri ESDM Ignasius Jonan mengungkapkan, penurunan harga minyak ini mengikuti penurunan harga minyak dunia mengacu pada data harga Brent Juni 2017 sebesar US$47,55 per barel atau turun 7,4 persen dibanding posisi bulan sebelumnya, yakni US$51,39 per barel.
Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) pada Juni 2017 tercatat turun 6,88 persen, yaitu dari US$48,54 pada Mei 2017 ke posisi US$45,20 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, data pengeboran dari Baker Hughes menunjukkan terjadi peningkatan aktivitas pengeboran di AS dari 941 pengeboran ke 974 rig.
"Berdasarkan publikasi IEA, terdapat penurunan permintaan produk minyak mentah di Korea Selatan dan China," kata Jonan dikutip melalui siaran pers resmi dikutip Selasa (4/7).
Lihat juga:Selama Mudik, Konsumsi BBM Premium Anjlok |
Tren penurunan harga ICP ini membuat rata-rata harga ICP sepanjang semester I 2017 berada di angka US$48,84 per barel atau di bawah angka US$50 per barel.
Kondisi ini dipercaya akan membawa angin segar bagi sektor hilir migas karena nilai impor menjadi lebih kecil. Tak cuma itu, Biaya Pokok Penyediaan (BPP) pembangkit listrik juga diyakini lebih efisien. Namun demikian, kondisi ini tidak berdampak baik bagi aktivitas hulu migas.
Oleh karenanya, seiring masih lesunya harga minyak mentah, pemerintah menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan solar per 1 Juli 2017 hingga 30 September 2017 nanti.
Sehingga, harga BBM jenis premium dan solar masing-masing masih dipatok Rp6.450 per liter dan Rp5.150 per liter.
"Demikian juga untuk harga Liquefied Petroleum Gas (LPG/elpiji) 3 kilogram (kg), tidak ada kenaikan," tegas Jonan.