Pelayaran ini merupakan kerja sama antara PT Indonesia Kendaraan Terminal, yang merupakan anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), PT Jagat Zamrud Khatulistiwa, dan Maspion Terminal Kendaraan Indonesia.
Presiden Direktur Jagat Zamrud Khatulistiwa Didik Suwiti menerangkan, potensi bisnis ini dilirik setelah melihat adanya kelebihan beban di jalan pantai utara Jawa (pantura). Kelebihan beban tersebut bisa berimbas pada kemacetan yang berujung pada inefisiensi biaya logistik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan menggunakan kapal roro, ia mengklaim pengiriman barang dari Jakarta-Surabaya antar pelabuhan (port-to-port) bisa dilakukan dalam jangka waktu 29 jam saja. Sementara itu, pengiriman barang secara door-to-door, atau melalui seluruh pelabuhan di pantai utara jawa, bisa dilakukan dalam jangka waktu 42 jam.
"Dengan mempersingkat waktu logistik, maka utilisasi truk bisa maksimal. Bagi badan usaha, hal itu sangat baik karena bisa meningkatkan nilai buku truk sebagai aset perusahaan," imbuhnya.
Adapun rencananya, perusahaan akan melayarkan dua kapal roro yang diberi nama kapal Sawitri dan roro Prayesti. Kapal Sawitri memiliki kapasitas 1.000 meter kubik per hari dengan berat mencapai 50 ton. Sementara itu, kapal Prayesti memiliki kapasitas mencapai 2 ribu meter kubik per hari dan berat sebesar 70 ton.
"Di samping itu, penggunaan kapal roro bisa mengurangi angka kecelakaan di jalan raya," imbuhnya.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menambahkan, saat ini jalur pantura dianggap sudah padat dengan volume mencapai 12 ribu truk per hadinya. Sehingga, dibutuhkan jalur lain yang bisa mengurangi beban jalur pantura.
"Sebetulnya, logistik bisa dengan kereta api. Tapi dengan kapal roro, secara short term dan long term lebih memberikan keuntungan," paparnya.