Anggota Komisi XI dari Fraksi Golkar M. Misbakhun menyebut peningkatan defisit dalam APBNP menjadi 2,92 persen memang tak terelakkan seiring dengan target penerimaan pajak yang diproyeksi meleset pada tahun ini. Sementara itu, penambahan anggaran belanja negara juga mendesak terutama untuk menutup anggaran subsidi pada sektor energi.
"Pelebaran proyeksi defisit bisa dimengerti. Konsekuensi defisit menjadi melebar masih bisa diterima sepanjang tidak melewati batas 3 persen," ujar Misbakhun kepada CNNIndonesia.com,
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proyeksi defisit 2,92 persen memang harus dikelola secara hati-hati. Jangan sampai melewati batas 3,0 persen sesuai batas maksimum yang dibolehkan UU," ungkapnya.
Foto: CNN Indonesia/Astari KusumawardhaniRancangan APBNP 2017 |
"Kalau pemerintah terlalu banyak menerbitkan utang juga dikhawatirkan dapat menimbulkan crowding out atau perebutan dana di pasar dengan perbankan," ungkap dia.
Kondisi tersebut menurut dia, dapat membuat perbankan kesulitan likuiditas dan memilih untuk menaikkan bunganya.
Bima juga khawatir realisasi anggaran dapat menembus 3 persen jika tidak dijaga secara hati-hati. Pasalnya, realisasi defisit yang lebih tinggi dari target pernah dialami pemerintah. Dia mencontohkan pada 2015 lalu, pemerintah menargetkan defisit hanya sebesar 1,9 persen, tetapi realisasinya mencapai 2,8 persen.
Sementara itu, Mantan Sekertaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani menilai pemerintah sebaiknya tak mengerek defisit APBN. Pasalnya, pemerintah perlu memperhatikan jumlah utang Indonesia dan porsinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Adapun per Mei 2017, jumlah utang telah mencapai Rp3.672,33 triliun atau sekitar 26,99 persen dari PDB. "Rasio masih terjaga, investor masih percaya dengan obligasi kita. Tapi jangan sampai membuang-buang uang dari utang," tekannya.
Dibanding menaikkan defisit APBN, pemerintah sebaiknya memangkas belanja negara berdasarkan realisasi belanja. Aviliani mencontohkan dana desa sebagai salah satu pos anggaran yang dapat dipangkas.
"Jangan sampai dana desa makin tinggi tapi infrastruktur pemda tidak berdampak ke ekonomi. Jangan sampai, seolah ke masyarakat tapi tidak ada dampaknya pada ekonomi," terangnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, ada sejumlah pos belanja yang membutuhkan suntikan anggaran tambahan. Tambahan dibutuhkan untuk anggaran subsidi sektor energi, anggaran pengembangan proyek infrastruktur, dan anggaran pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) serentak pada 2018 dan pemilihan presiden (Pilpres) 2019.
Selain itu, pemerintah juga perlu menambah bobot anggaran untuk perhelatan kompetisi olahraga negara-negara di kawasan Asia, Asian Games 2018 dan menyelesaikan target sertifikasi lahan yang mencapai lima juta hektar di tahun ini.
Sementara itu, target penerimaan negara dipangkas seiring dengan merosotnya penerimaan pajak yang diproyeksi mencapai Rp47,97 triliun, dari Rp1.498,9 triliun menjadi Rp1.450,93 triliun.
"Ada potensi shortfall dan dari sisi belanja negara, kami lihat ada kenaikan, termasuk pergeseran belanja barang ke belanja modal. Kami juga akan fokus hitung subsidi minyak dan berapa yang harus ditanggung PT Pertamina (Persero)," terang Sri Mulyani.
Adapun Rancangan APBNP 2017 telah diberikan pemerintah kepada DPR pada awal pekan ini dan pada siang ini akan dibahas bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR beserta Menteri Perencanaan Pembangunan Nasioal/Bappenas Bambang PS Brodjonegoro dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo.
Foto: CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani