Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin mengatakan, pengubahan proyeksi ini dilakukan pemerintah usai melihat laju inflasi selama enam bulan pertama di tahun ini.
Laju inflasi terbilang tinggi lantaran terkerek penyesuaian komponen tingkat harga yang diatur oleh pemerintah (administered price) melalui kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk pelanggan listrik berkapasitas 900 volt ampere (VA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, di satu sisi, pemerintah telah berupaya untuk menekan laju inflasi dari sisi komponen gejolak harga pangan (volatile foods) agar mampu menetralisir laju inflasi secara keseluruhan. Bahkan, pengendalian volatile foods kian kencang dilakukan jelang bulan ramadan hingga puncak lebaran di penghujung Juni lalu.
(CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani) |
"Semoga tidak (lebih tinggi dari target inflasi), walaupun tekanannya harus diakui," kata Darmin.
Namun, sekalipun telah mengubah target laju inflasi, Darmin mengatakan bahwa pemerintah akan terus mengupayakan agar inflasi dapat diseret lebih rendah lagi dari capaian saat ini.
Adapun caranya tak jauh berbeda dengan apa yang sudah dilakukan, yaitu menjaga kestabilan harga dan pasokan pangan agar volatile foods tak melonjak hingga akhir tahun.
Bersamaan dengan penahanan kenaikan sejumlah komponen di sektor energi tersebut, pemerintah harus menanggung konsekuensi penambahan anggaran subsidi sektor energi mencapai Rp25,8 triliun pada R-APBN 2017, yaitu menjadi Rp103,1 triliun dari sebelumnya Rp77,3 triliun di APBN 2017.
Secara rinci dalam R-APBN 2017, subsidi listrik meningkat Rp7 triliun menjadi Rp52 triliun, subsidi BBM meningkat Rp300 miliar menjadi Rp10,6 triliun, dan subsidi elpiji meningkat Rp18,5 triliun menjadi Rp40,5 triliun.
(CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)