Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menjabarkan, empat poin itu adalah pengambilan alih (Expropriation), perlakuan sengketa negara investor (Investor-State Dispute Settlement/ISDS), penanganan yang sama (Equal Treatment) soal pengelolaan sumber daya negara investor, dan portofolio investasi dari UEA di pasar modal Indonesia.
Menurut dia, empat poin tersebut masih dinegosiasikan lantaran belum sinkron dengan Undang-undang (UU) Indonesia yang berlaku saat ini. Di sisi lain, pemerintah harus pula patuh pada UU yang berlaku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bersamaan dengan masih mengganjalnya empat poin itu, pemerintah akan mengirimkan tim yang terdiri dari Kementerian ESDM, Kementerian Luar Negeri, dan Bank Indonesia (BI) ke UEA untuk melanjutkan negosiasi di akhir pekan.
Adapun investasi tersebut akan berjalan melalui perusahaan pelat merah, yakni PT Pertamina (Persero).
"Bisa ke blok terminasi, nanti sifatnya bisnis ke bisnis, kami kasih ke Pertamina. Pertamina boleh kerja sama dengan rekanan lama atau rekanan baru yang dirasa memberikan nilai tambah dalam pengelolaan blok-blok tersebut," jelas Arcandra.
Selain ke sektor energi, UEA disebut juga melirik investasi ke sektor pertanian, pengembangan ternak, dan infrastruktur perhubungan dengan menggandeng PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) dan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero).
Senada dengan Arcandra, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa percepatan perjanjian dengan UEA ini berpotensi mendatangkan suntikan investasi ke Tanah Air. Namun, realisasi investasinya diperkirakan belum masuk di tahun ini.
Pasalnya, negosiasi masih membutuhkan waktu. Sekalipun telah menemukan kata sepakat, pemerintah dirasa baru akan meneken kesepakatan akhir tahun nanti. Sehingga, kemungkinan investasi baru masuk tahun depan.
Sebagai informasi, perjanjian ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan antara Menteri ESDM dengan Menteri Energi UEA di Mei lalu, di mana kedua belah pihak telah meneken nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) sebagai bentuk kesiapan UEA menanamkan modal di Indonesia.
Mengacu data BKPM, UEA adalah negara Timur Tengah yang paling tinggi realisasi investasinya di Indonesia dengan angka US$55 juta sepanjang 2016. Angka itu mengambil porsi 0,19 persen dari realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) tahun lalu yang sebesar US$28,96 miliar.