Dikutip dari Reuters, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,17 ke angka US$44,4 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent juga meningkat US$0,17 ke angka US$46,88 per barel.
Meski harga minyak menguat, pelaku pasar masih bertanya-tanya dengan prediksi suplai di masa depan. Salah satu indikasinya adalah kegagalan organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) untuk mengurangi persediaan minyak meski kumpulan kartel itu setuju untuk melanjutkan pembatasan produksi hingga Maret 2018 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Kuwait menyatakan, Nigeria dan Libya juga diundang ke dalam pertemuan tersebut dan produksinya juga bisa dipotong lebih cepat dibanding bulan November mendatang.
Akibatnya, beberapa bank dan analis memangkas prediksi harga minyak di masa mendatang. BNP Paribas, contohnya, telah menurunkan ekspektasi harga minyak WTI dari US$57 per barel ke US$49 per barel dan Brent dari US$60 per barel ke angka US$51 per barel.
Tetapi, pada hari Senin, Chief Executive Officer Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan bahwa saat ini dunia tengah menuju kekurangan suplai minyak.
"Jumlah minyak konvensional yang ditemukan di seluruh dunia selama empat tahun terakhir setengah kali lebih rendah dibanding empat tahun sebelumnya," tuturnya.