Pengusaha Sebut Pertumbuhan Industri Ritel Bakal Stagnan

Galih Gumelar , CNN Indonesia | Senin, 17/07/2017 19:32 WIB
Pengusaha Sebut Pertumbuhan Industri Ritel Bakal Stagnan Pelemahan daya beli dan peralihan perilaku belanja melalui situs daring membuat industri ritel mengalami hambatan pertumbuhan. (CNN Indonesia/Giras Pasopati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memprediksi pertumbuhan penjualan ritel stagnan hingga akhir tahun ini. Dengan demikian, pertumbuhan penjualan sektor ritel maksimal diprediksi 9 persen hingga akhir tahun nanti.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan, pertumbuhan tahun ini mengikuti tren penurunan selama dua tahun terakhir. Adapun, tren ini disebabkan karena beberapa faktor.

Yang pertama adalah perubahan perilaku belanja yang lebih banyak memilih belanja daring. Selain itu, pelemahan ini juga disebabkan karena daya beli masyarakat yang juga melemah.

Khusus untuk daya beli, Roy menyebut bahwa ini umumnya disebabkan oleh banyaknya kelompok usia produktif yang tidak seluruhnya diserap pasar tenaga kerja. Sehingga, kelompok usia ini tidak memiliki pendapatan yang layak konsumsi.

"Analisanya begini, usia produktif Indonesia sudah lebih besar dari usia mapan. Dengan usia yang produktivitasnya lebih tinggi, lapangan kerja belum bisa menyerap produktivitas yang tinggi itu. Kemampuan rendah daya beli rendah, padahal penghasilan baik inilah yang seharusnya mendorong konsumsi," kata Roy ditemui di Kementerian Perdagangan, Senin (17/7).

Selain itu, daya beli juga dipengaruhi oleh banyaknya masyarakat yang cenderung menahan konsumsi karena menunggu saat yang tepat untuk berbelanja. Pasalnya, pengeluaran masyarakat biasanya menanjak di pertengahan tahun untuk membayar pendidikan, sehingga mau tak mau konsumsinya harus ditunda.

Hal itu, lanjutnya, terlihat dari lemahnya pertumbuhan penjualan pada saat lebaran kemarin yang mencapai 30 persen hingga 40 persen. Hal itu menyebabkan pertumbuhan penjualan semester I lebih rendah 2 persen dibanding tahun kemarin.

"Jadi ada dua segmen, punya uang tapi menahan belanja dan yang margin bawah yang daya belinya yang tidak kuat untuk berbelanja. Jadi mereka datang ke mal, ramai, tapi basket size-nya kecil, belanjanya kecil," ujar Roy.

Melihat kondisi ini, ia meminta pemerintah untuk membuka lapangan pekerjaan baru demi menyerap golongan usia produktif yang belum mendapat kerja.

Selain itu, pemerintah juga harus mau menahan golongan harga yang diatur pemerintah (administered prices), yang dianggapnya sangat sensitif terhadap faktor pengeluaran rumah tangga.

"Misalnya harga energi. Jadi ketika harga energi masih bisa distabilkan, kami harap kenaikan harga tidak terjadi dalam waktu sekarang ini. Selain itu, kami juga meminta pemerintah meninjau kembali suku bunga acuan agar pinjaman bisa mengucur, konsumsi bisa naik," terangnya.