Darmin menjelaskan, sejak kuartal pertama tahun ini, ekspor dan impor Indonesia mulai menunjukkan kinerja positif, namun belum optimal. Darmin menambahkan, salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah untuk menggenjot daya beli masyarakat adalah dengan mempercepat pencairan anggaran belanja.
"Tidak selalu dibutuhkan kebijakan untuk setiap hal, itu konsumsi akan berubah pada saat anggaran pemerintah mulai baik, dan pengeluarannya juga cepat, begitu juga dengan ekspor," ujar Darmin, Jumat (21/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama di periode itu juga ada bulan Ramadan dan ada pembayaran uang sekolah. Nah, pembayaran uang sekolah membuat spending daripada masyarakat Indonesia banyak yang terpakai untuk uang sekolah sehingga dampaknya kepada konsumsi tidak optimal," katanya.
Direktur Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu Marwanto Harjowiryono menilai pemberian gaji ke-13 setidaknya mampu menjadi stimulus bagi ekonomi masyarakat di awal semester II 2017. Dengan demikian, efeknya diharapkan tetap mampu menggairahkan daya beli masyarakat pada tahun ini.
"Tapi proses pembayaran ini sudah diatur dalam peraturan perundangan. Jadi memang harus dilaksanakan sesuai jadwal yang ada," ungkap Marwanto.
Adapun berdasarkan catatan sementaranya, sampai minggu ketiga Juli, pencairan gaji ke-13 telah mencapai Rp6,8 triliun atau sudah memenuhi target yang dianggarkan.
"Kemarin sudah hampir seluruh Kementerian/Lembaga (K/L) mencairkan itu. Sudah semuanya gaji ke-13. Realisasinya sekitar segitu," kata Marwanto.
"Sudah sekitar Rp22 triliun, hampir Rp23 triliun. Kami sudah lakukan yang terbaik, mudah-mudahan memberikan manfaat," pungkasnya.