Direktur Keuangan Sjambiri Lioe memaparkan, estimasi penurunan tersebut disebabkan merosotnya penjualan beras yang mencapai 12 persen dari Rp2,4 triliun menjadi Rp2,1 triliun.
"Beras hanya Rp2 triliun, kalau dilihat detil semester I 2017 dibandingkan semester I 2016 yang tumbuh banyak dari produk food itu bihun lalu mie dan snack," terang Sjambiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati penjualan kotor diproyeksi turun, tetapi perusahaan mengestimasikan penjualan hingga akhir tahun mampu tumbuh 8 persen. Bila tercapai, Tiga Pilar dapat membukukan penjualan sebesar Rp7,24 triliun dari total penjualan akhir tahun 2016 Rp6,7 triliun.
"Biskuit memang ramainya pada kuartal III dan IV. Tren itu muncul dan konsisten di 2015 dan 2016," kata Sjambiri.
Manajemen PT IBU mengklaim, pihaknya tidak menimbun melainkan hanya menyimpan stok tersebut untuk penjualan pekan depan. Hal ini pun, jelas Direktur Independen Jo Tjo Seng, merupakan hal yang wajar dilakukan oleh perusahaan.
"Kami pasarkan ke seluruh Indonesia, ini jadi wajar," terang Jo.
Selain itu, PT IBU juga dituduh membeli beras medium IR 64 untuk dikemas dan dijual dengan harga premium. Jo mengatakan, perusahaan tidak menyangkal hal itu. Hanya saja, terdapat beberapa parameter fisik tertentu yang dilakukan PT IBU sehingga produknya dijual dengan harga premium.
"Kriteria itu berdasarkan parameter fisik, bukan jenis atau varietas," tutup Jo.