Adapun secara khusus, hitungan yang diperlukan adalah yang terkait dalam rencana pengembangan kewilayahan berbasis Transit Oriented Development (TOD).
TOD sendiri merupakan rencana pengembangan kewilayahan berdasarkan stasiun-stasiun yang rencananya akan dibangun sepanjang jalur kereta cepat. Keempat stasiun itu adalah stasiun Halim, stasiun Karawang, stasiun Walini, dan stasiun Gedebage.
Luhut mengatakan, hitung-hitungan ini harus terbuka agar pengembangan kewilayahan dengan model TOD bisa sinambung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia menjelaskan, struktur keuangan TOD perlu dibedah agar imbal hasilnya bisa berkali-kali lipat. Ia mencontohkan skema TOD yang dijalankan proyek Light Rail Transit (LRT) yang disebutnya berpotensi menghasilkan tingkat pengembalian internal (Internal Rate of Return/IRR) yang tinggi
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono juga mengatakan hal serupa. Ia menuturkan, Jokowi menginginkan adanya dasar perhitungan TOD karena menyangkut pengembangan bisnis kereta cepat. Adapun, keinginan tersebut disampaikannya saat rapat terbatas menyangkut kereta cepat.
"Karena hitungan TOD itu belum terjawab," papar Basuki ditemui di tempat yang sama.
Rencananya, kereta api Jakarta-Bandung ini akan menelan dana mencapai US$5,5 miliar dengan bentangan 142,3 kilometer (km).
Pembangunan ini akan dikerjakan oleh KCIC, yang merupakan konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang memiliki kepemilikan 40 persen dan China Railway International Co. Ltd sebesar 60 persen.
Adapun, PSBI merupakan konsorsium dari empat Badan Usaha Milik Negara yaitu PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Kereta Api Indonesia (Persero), dan PT Perkebunan Nasional VII (Persero).