"Upaya BCA dalam memperkuat bisnis perbankan transaksi dan kemampuannya dalam beradaptasi terhadap kondisi pasar terkini berhasil mendorong pertumbuhan dana sekaligus menghasilkan kredit yang berkualitas," tutur Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam konferensi pers, Kamis (27/7).
Jahja mengungkapkan, salah satu faktor pendongkrak laba semester pertama tahun ini adalah turunnya biaya pencadangan (provision). Biaya pencadangan perseroan turun 53,3 persen dari Rp2 triliun pada semester pertama tahun lalu menjadi Rp936 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dirinci, pertumbuhan kredit ditopang dari segmen korporasi yang melonjak 18,7 persen (yoy) menjadi Rp160, 74 triliun. Segmen konsumer kemudian mengekor dengan mencatatkan pertumbuhan 18,4 persen (yoy) menjadi Rp124,55 triliun.
Sementara itu, kredit komersial dan usaha kecil dan menengah (UKM) hanya tumbuh tipis 1,2 persen menjadi Rp148,32 triliun. Pasalnya, perseroan memilih konservatif dengan lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit padahal produk sejenis ditawarkan oleh kompetitor.
"Kami tidak mau kompromi dengan kualitas kredit. Kami tidak ingin dengan jaminan sedikit lalu memberikan fasilitas yang banyak," jelasnya.
Hingga akhir tahun, Jahja mengatakan ingin menjaga NPL di kisaran 1,5 hingga 2 persen.
Seiring peningkatan NPL, cadangan kredit juga tumbuh 23,7 persen menjadi Rp12, 5 triliun. Rasio cadangan terhadap kredit bermasalah tercatat sebesar 196,3 persen naik dari posisi yang sama tahun lalu, 193 persen. Ke depan, guna menjaga kualitas kredit, perseroan akan mengambil beberapa langkah mulai dari restrukturisasi kredit hingga menjual jaminan.
Dari sisi dana, pada paruh pertama tahun ini Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat masih tumbuh 16,7 persen menjadi Rp572, 2 triliun. Terjadi pergeseran porsi dana murah. Per akhir Juni 2017, dana giro dan tabungan yang dihimpun perusahaan (Current Account Saving Account/CASA) tercatat sebesar Rp426,9 triliun atau berkontribusi sebesar 74,6 persen dari total DPK, lebih rendah dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 77 persen.
Jahja mengungkapkan penurunan porsi dana murah salah satunya akibat langkah perseroan menaikkan bunga deposito sekitar satu persen selama Januari-Juni. "Dari kenaikan bunga deposito saja kami sudah mendapatkan Rp15 triliun," jelas Jahja.
Lebih lanjut, posisi permodalan dan likuiditas BCA tetap terjaga dengan rasio kecukupan modal (Capital to Adequaty Ratio/CAR) sebesar 22,1 persen dan rasio kredit terhadap pendanaan (LFR) sebesar 74,5 persen. (agi)