Peraturan Menteri ESDM Nomor 42 Tahun 2017 Tentang Pengawasan Pengusahaan Pada Kegiatan Usaha di Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral. Revisi antara lain akan dilakukan pada pasal terkait perubahan direksi dan komisaris pada tumbuh kontraktor, setelah mendengar masukan dari para pelaku usaha.
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menuturkan, pelaku usaha umumnya mengeluhkan pasal 10, 15, 20 dan 26 pada Permen ESDM Nomor 43. Adapun, ketentuan itu menyebut bahwa perusahaan hulu dan hilir migas, pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL), hingga perusahaan tambang wajib melaporkan dan mendapat persetujuan Menteri ESDM jika ada perubahan direksi dan komisaris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akan kami revisi ke arah yang lebih baik. Yang menjadi concern mereka akan kami address semua," kata Arcandra di Kementerian ESDM, Kamis (27/7).
Pemerintah juga mempertimbangkan revisi pada Permen ESDM Nomor 43. Di dalam aturan itu, tarif setrum dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) ditentukan secara negosiasi antara PT PLN (Persero) dan pengembang swasta. Namun, ada masukan dari pengembang swasta bahwa tarif listrik tidak usah ditentukan secara business-to-business (B-to-B).
"Ada usul, bisa tidak jangan B-to-B tapi pakai ceilling tariff, itu pun sedang kami review," ujarnya.
Keseluruhan revisi aturan tersebut diharapkan mampu mendorong iklim usaha lebih positif.
"Permen (Peraturan Menteri) baik di kehutanan dan ESDM misalnya, saya lihat satu dan dua bulan ini direspons tidak baik karena dianggap menghambat investasi," ujar Jokowi.