Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, secara normalnya memang Eni memprioritaskan produksinya untuk diproses di fasilitas tersebut. Jika masih ada sisa, maka Chevron bisa menggunakannya.
Selain itu, Chevron juga diarahkan untuk bisa menggunakan fasilitas itu jika nantinya produksi gas Jangkrik sudah mengalami penurunan. "Tentu, kalau secara normalnya Eni akan memprioritaskan produksi mereka dulu (ke fasilitas itu). Kalau turun, baru Chevron masuk," jelas Arcandra di Kementerian ESDM, Kamis (27/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin mereka (Chevron) bisa bikin fasilitas sendiri seperti rencana awal mereka. Tapi, biayanya ini (yang perlu dipikirkan)," ungkapnya.
"Yang jelas untuk IDD, Chevron sedang bicara dengan SKK Migas untuk memulainya. Silahkan berbicara business-to-business (B-to-B) dengan Eni untuk pemakaian fasilitasnya," pungkas Arcandra.
Meski demikian, Chevron mengatakan bahwa fasilitas di Jangkrik tak mampu menampung gas yang diproduksi dua lapangannya. Adapun, kapasitas produksi FPU Jangkrik saat ini di angka 450 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan hanya bisa dimaksimalkan ke angka 800 MMSCFD.
Namun rencananya, lapangan Gendalo akan menghasilkan gas sebanyak 700 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), sementara itu lapangan Gehem bisa memproduksi gas sebanyak 420 MMSCFD. Apalagi, FPU Jangkrik akan semakin sesak karena produksi lapangan Marakes, yang juga dikelola Eni, juga akan diproses ke situ.
Di sisi lain, pemerintah berharap proyek IDD bisa onstream di tahun 2022 setelah sebelumnya direncanakan tahun 2018.