"Petani ada yang sudah menanam IR64, ada yang menanam mekongga, inpari, begitu panen ini kan langsung digiling bersama. Jarang disendiriin, kecuali untuk khusus seperti beras Rojo Lele, mentik wangi, dan merah," tutur Ketua Perpadi Soetarto Alimoeso usai menghadiri sebuah acara diskusi di Jakarta, Jumat (29/7).
Soetarto mengungkapkan, penentu kualitas beras bukan hanya sekedar varietas beras tetapi juga kondisi beras seperti derajat sosoh dan kandungan air dalam butir air. Derajat sosoh merupakan tingkat terlepasnya aleuron (kulit ari) yang melapisi biji beras.
Lihat juga:KPPU Dorong Pangkas Rantai Distribusi Beras |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan Badan Standarisasi Nasional (BSN), Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk beras premium diantaranya, derajat sosoh mencapai 100 persen. Derajat sosoh merupakan tingkat terlepasnya aleuron (kulit ari) yang melapisi biji beras. Selain itu, beras premium tingkat kadar air maksimal 14 persen yang ditentukan dari jumlah kandungan air di dalam butir beras.
Soetarto mengingatkan beras premium banyak dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke atas yang cenderung lebih sedikit dalam mengkonsumsi beras dibandingkan masyarakat menengah ke bawah. Jika rata-rata konsumsi beras per kapita 100 kg per tahun, bagi konsumsi konsumen beras premium mungkin hanya 80 kg per tahun.
Lebih lanjut, Soetarto berharap polemik beras premium segera tuntas. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir dalam mengkonsumsi beras.
Seperti diberitakan sebelumnya, pekan lalu, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menyegel sebuah gudang beras milik PT Indo Beras Unggul (IBU) di Jalan Rengas, Karangsambung, Kedungwaringin, Kota Bekasi, Jawa Barat. Di dalam gudang tersebut tersimpan 1.161 ton beras dalam kemasan premium.
Polisi menuding anak usaha dari PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA) itu memanipulasi kandungan beras yang seharusnya memiliki kualitas premium.
Dalam konferensi pers, Juru Bicara PT IBU Jo Tjong Seng tidak menyangkal penggunaan varietas IR64, hanya saja perusahaan melakukan penggilingan dengan parameter fisik tertentu, sehingga produk itu dijual dengan harga premium.
"IR64 itu tak ada lagi urusan dengan medium. Kriteria itu berdasarkan parameter fisik, bukan jenis atau varietas. Kemudian dengan mesin bagus beras patah dikit, perbedaan beras dilihat dari pecahnya lebih banyak," ucap Jo.