Berdasarkan laporan keuangan perseroan, kenaikan laba bersih perusahaan rokok yang dikenal dengan produk Gurang Garam International, Surya Pro Mild dan GG Mild ini didorong oleh pendapatan yang menanjak 8,87 persen menjadi Rp40,24 triliun dari Rp36,96 triliun.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, pertumbuhan sebesar 9,09 persen untuk laba bersih dapat dikatakan diatas prediksi pasar. Pasalnya, laba bersih Gudang Garam diproyeksi hanya tumbuh sekitar 4 persen-5 persen pada paruh pertama ini.
"Karena ditengah banyaknya tantangan yang ada, dengan Gudang Garam bisa tumbuh saja sudah bagus," kata Reza kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap segmen atau jenis rokok yang dikeluarkan pasti ada saingannya," imbuh Reza.
"CHT akan membebani emiten tapi bebannya dibagikan ke konsumen, makanya ada varian produk baru untuk menambah pilihan masyarakat dan diharapkan volume penjualan meningkat," papar Reza.
Sepanjang semester I 2017, biaya pokok penjualan untuk pos pita cukai, PPN, dan pajak rokok memang terlihat mengalami kenaikan. Total biaya yang dikeluarkan untuk pos tersebut mencapai Rp24,26 triliun dari sebelumnya sebesar Rp21 triliun.
Sayang, pertumbuhan kinerja perusahaan tidak sejalan dengan pergerakan harga saham perusahaan. Pada penutupan sesi I hari ini, harga saham Gudang Garam anjlok 3,79 persen ke level Rp76.775 per saham.
Lihat juga:Memilih Reksa Dana Sesuai Rencana Investasi |
Kendati demikian, Reza menilai, pergerakan harga saham perusahaan yang tidak jauh beda dengan tahun lalu mengindikasikan adanya potensi kenaikan ke level Rp90 ribu per saham sebelum akhir tahun.
"Juni tahun lalu di level sekitar Rp60 ribu per saham kemudian naik ke level sekitar Rp70 ribu per saham, setelah itu biasanya akan landai hingga akhir tahun," tutup Reza.