Rendahnya inflasi tersebut antara lain terjadi karena salah satu penyumbang inflasi terbesar, yakni subsidi BBM telah dihapus sejak akhir tahun 2014 lalu.
Gubernur Bank indonesia (BI) Agus D.W Martowardojo menyebut, selama dua tahun terakhir, inflasi Indonesia selalu berada di kisaran 3 persen. Hingga akhir tahun ini, inflasi juga diperkirakan bisa berada di bawah 4 persen. Agus menyatakan, inflasi yang rendah ini membuat Indonesia setara dengan negara-negara lain di mana tingkat inflasinya bisa berada di bawah 3 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini era baru seperti negara-negara tetangga, di mana inflasi rata-rata di bawah 3 persen," ujarnya, Rabu (26/7).
Foto: CNNIndonesia/Asfahan YahsyiData Inflasi 2014-2017 |
Mengacu pada laporan keuangan PT Unilever Indonesia Tbk, penjualan bersih perseroan hanya tumbuh 2,49 persen secara tahunan menjadi Rp 21,26 triliun pada semester I tahun ini. Pertumbuhan tersebut lebih lemah dibanding semester I tahun lalu yang mencapai 10,43 persen.
Penjualan bersih PT Mayora Indah Tbk, juga mengalami pelemahan. Pada paruh pertama tahun ini, penjualan perseroan hanya tumbuh 1,23 persen secara tahunan menjadi Rp 9,39 triliun. Padahal, pada paruh pertama tahun lalu pertumbuhannya mencapai 23 persen.
"Secara struktural inflasi global memang sedang rendah, apalagi harga minyak dunia masih bergerak di kisaran US$52. Namun, permintaan secara agregat masih stagnan," ujar Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual saat dihubungi, Selasa (1/8).
Sebetulnya menurut David, pemerintah bisa memanfaatkan momen inflasi rendah ini untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 5 persen. Kuncinya, pemerintah harus menjaga kepercayaan masyarakat agar tidak takut dalam membelanjakan uangnya.
Segala kebijakan yang sifatnya disentif, menurutnya harus dihindari oleh pemerintah. Pemerintah juga harus konsisten dalam mengeluarkan regulasi sehingga bisa memberikan kepastian kepada dunia usaha.
"Perlu adanya stimulus juga untuk menjaga confident masyarakat dan ke bisnis. Jangan sampai mereka terganggu, sehingga tidak berani bertransaksi. Kebijakan penurunan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) juga harus hati-hati karena bisa menciderai confident," katanya.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan, dinamika politik perlu dijaga agar tidak menciptakan kegaduhan yang bisa berdampak negatif terhadap dunia usaha.
“Di tengah kondisi ekonomi global dan nasional yang belum stabil, sangat dibutuhkan kondisi politik yang aman dan memberi rasa nyaman bagi pelaku usaha, pasar dan investor,” ujarnya.
Menggedor daya beli masyarakat di sisa paruh tahun ini juga bukan perkara yang mudah. Ekonom Samual Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, secara historis, pola konsumsi masyarakat pada kuartal III dan IV akan lebih rendah jika dibandingkan dengan kuartal II yang memiliki momentum Lebaran dan tahun ajaran baru bagi anak sekolah.
"Kuartal III dan IV memang secara siklus konsumsi rumah tangga akan menurun," kata Lana.
Kendati demikian, ia berharap, pemerintah bisa menggunakan APBN untuk menstimulus perekonomian. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2017, pemerintah mematok belanja pemerintah pusat naik dari 1.315,5 triliun menjadi Rp 1.366,9 triliun.
Di sampung itu, menurut Lana, pemerintah harus bisa menahan harga yang barang dan jasa yang bisa dikendalikan (administered price), seperti harga Bahan Bakar Minyak (BBM), gas elpiji maupun tarif listrik.
Kebijakan itu dinilai bisa memberi angin segar di tengah stagnannya tingkat pendapatan yang diterima oleh masyarakat.
"Income masyarakat memang melambat Tapi, apabila bersamaan dengan harga barang yang tidak naik, maka konsumen tidak akan terlalu berat bebannya untuk belanja," ucapnya.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi