"Sampai sore ini (3/8) yang telah meneken pernyataan di atas meterai dan ditujukan kepada direksi untuk tidak ikut aksi mogok sudah lebih dari 200 orang. Saya yakin akan makin banyak rekan pekerja yang lebih memilih mengikuti aturan perusahaan," kata Supervisor Operator RTGC Maintenance Mufti Ali, dikutip dari Antara, Jumat (4/7)
Serikat Pekerja PT JICT mulai 3 Agustus hingga 10 Agustus berencana melakukan mogok kerja, terbukti pada hari Kamis (3/8) sekitar 650 pekerja melakukan mogok kerja dan melumpuhkan kegiatan bongkar muat di terminal JICT. Mufti adalah salah satu pekerja JICT yang ikut menandatangani surat pernyataan kepada direksi JICT.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menolak mogok akan mendapat tekanan dari SP JICT. Namun, jika ikut mogok juga mengingkari hati nurani. Jujur, kami hanya ingin bekerja baik dan tidak menginginkan ini terjadi," kata Pancarno.
Pekerja lain, Yasser Arafat menyatakan bahwa penghasilan yang diterima JICT sudah bisa memberikan kehidupan yang lebih dari cukup. Ia bahkan mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah favorit.
"Bisa mendapatkan penghasilan seperti di JICT sungguh tak terbayangkan. Tidak ada lagi perusahaan yang mau membayar sebesar ini dengan beban kerja yang sama. Ini yang membuat pekerja tidak ingin ribut dengan manajemen," kata Yasser Arafat, pekerja di Pjs Supervisor Security JICT.
Manajemen menurut dia, dalam surat tersebut juga menjanjikan perlindungan hukum terhadap pekerja JICT yang menandatangani surat pernyataan tidak ikut mogok dan tetap bekerja.
"Direksi mengapresiasi sikap pekerja yang supportif dan mendukung operasionalisasi perusahaan berjalan optimal. Para pekerja ini sudah paham hak dan kewajibannya," tegas Riza.
"Jika perusahaan rugi dampaknya juga tidak baik bagi pekerja. Penghasilan mereka dapat berkurang," ujarnya.