Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito mengatakan, pengeboran sumur ini masih tetap dilakukan operator saat ini, Total E&P Indonesie meski biayanya dikeluarkan perusahaan. Sumur pertama yang diberi nama TN-N74 dan TN-N75 memiliki kedalaman 1.078 meter.
"Diperkirakan pengerjaan sumur tersebut akan memakan waktu sekitar 13 hari," jelas Adiatma melalui siaran pers dikutip Selasa (8/8).
Adapun rencananya, PHM akan mengebor 14 hingga 15 sumur di blok Mahakam selama tahun 2017 di lapangan Tunu, Tambora, dan Handil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PHM berhak untuk melakukan pembiayaan atas kegiatan operasi minyak dan gas bumi yang diperlukan sejak tanggal ditandatanganinya kontrak sampai dengan tanggal efektif kontrak 1 Januari 2018, yang pelaksanaannya dilakukan oleh Total," ungkapnya.
Agar produksi blok Mahakam tak menurun pasca peralihan operator, Pertamina bisa melakukan investasi di WK migas yang terletak di sisi timur Kalimantan itu sepanjang masa transisi pengelolaan di tahun ini.
Perseroan sendiri telah menganggarkan US$160 juta demi mengebor di Mahakan. Namun, meski Pertamina sudah bisa investasi, pengelolaannya (operatorship) tetap dilakukan oleh Total.
Pasalnya, kontrak bagi hasil produksi perusahaan asal Perancis itu baru akan habis 31 Desember 2017 nanti. Kepastian aktivitas Pertamina ini dijamin di dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 30 tahun 2016.
Hingga semester I 2017, produksi minyak blok Mahakam terbilang 55.100 barel per hari dan gas sebesar 1.504 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). (gir)