Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2017, jumlah orang miskin tercatat 27,77 juta orang atau sekitar 10,64 persen dari jumlah penduduk. Malah, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, angka kemiskinan ini cederung meningkat 5,67 persen.
"Banyak usaha-usaha dilakukan. Namun, belum cukup, walaupun ada hasilnya. Karena itu, upaya harus lebih gencar lagi. Tahun 1970-1980, kita menganut ekonomi terbuka, sekarang teorinya negara harus campur tangan lebih banyak lagi," ujarnya, membuka Indonesia Development Forum 2017, Rabu (9/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, persoalan mendasar di Indonesia, yakni tingginya ketimpangan antara si miskin dan si kaya. Dari sejumlah ketimpangan, salah satunya adalah ketimpangan pendapatan, antar sektor dan profesi.
Pekerjaan rumah pemerintah untuk mengurangi ketimpangan pendapatan, yakni meningkatkan pendapatan sekaligus mengurangi pengeluaran masyarakat. Misalnya, menyalurkan subsidi, program bantuan sosial, namun terus membimbing masyarakat untuk meningkatkan produktivitas demi mengerek pendapatannya.
Ambil contoh, JK menyebutkan, menaikkan pendapatan buruh yang bekerja di industri. Toh, kenaikan pendapatan dikompensasi dengan pendapatan pajak.
Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku, tak mudah bagi pemerintah untuk menekan angka kemiskinan hingga dibawah 10 persen. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk miskin tumbuh berkali-kali lipat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Bahkan, upaya pemerintah dalam menambah utang hingga ribuan triliun pun belum terasa dalam mengentaskan kemiskinan, karena utang tersebut ditujukan untuk membangun infrastruktur. "Kalau tahapnya baru pinjaman, tetapi belum ada pembangunannya, ya akan menurunkan (kemiskinan)," pungkasnya. (bir)