Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan usahanya tembus Rp1,3 triliun atau naik 40,75 persen. Menurut Direktur Utama Perum Peruri Prasetio, pendapatan usaha tersebut dikontribusi oleh produksi uang kertas rupiah hingga 4,73 miliar bilyet atau tumbuh 67,67 persen dibandingkan 2016 yang hanya sebanyak 2,82 miliar bilyet.
Ia mengungkapkan, kinerja semester I 2017 merupakan titik balik bagi Peruri setelah menorehkan kinerja jelek pada semester I 2016. Tahun lalu, perusahaan pelat merah ini terpaksa harus menelan kerugian hingga Rp426 miliar akibat ketersediaan bahan baku produksi uang yang mengalami keterlambatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping itu, Perum Peruri juga memproduksi uang logam sebesar 1.062 juta keping, naik 20,27 persen dibandingkan 2016 yang mencapai 883 juta keping. Sementara, untuk produksi paspor dan buku melorot hingga 75,52 persen dari 11.353 ribu buku pada 2016 menjadi 335 ribu buku.
Penurunan produksi paspor dan pita cukai karena pesanannya dari Direktorat Jenderal lmigrasi untuk paspor dan Direktorat Jenderal Pajak untuk pita cukai baru baru keluar pada Desember 2016 dan April 2017.
"Saat ini, sedang dalam proses pengerjaan. Khusus penurunan pesanan materai karena Ditjen Pajak masih mempunyai persediaan yang mencukupi untuk 2017," kata Prasetio.