Menurut Sekretaris Jenderal KIARA Susan Herawati, harga garam produksi petambak akan sulit bersaing, terutama saat musim kemarau basah datang dan garam impor terdistribusi.
"Selisih harga garam bisa 10 persen dari harga yang bisa kita produksi. Lumayan tinggi dan sangat jauh sekali perbedaannya dengan impor. Namun, ketika kemarah basah lewat, garam kita akan babak belur di pasaran," ujarnya, mengutip ANTARA, Sabtu (12/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Indonesia Sudah Impor Garam Sejak 1990 Silam |
Menurut Susan, anjloknya harga garam di wilayah penghasil, seperti Lombok, Nusa Tenggara Barat, bisa berdampak pada alih profesi petambak garam menjadi petambak udang.
Menurut Susan, kadar NaCl paling tinggi yang bisa diproduksi petambak lokal sebesar 94 persen, namun bisa ditingkatkan menjadi 97 persen jika didukung teknologi, seperti mesin iodisasi.
Seperti diketahui, pemerintah membuka keran impor 75 ribu ton garam konsumsi dari Australia yang akan dilakukan secara bertahap.
Sebanyak 27.500 ton garam impor dari Australia yang tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada Jumat (11/2) akan disebar ke sejumlah Industri Kecil Menengah (IKM) di tiga wilayah, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalimantan Barat. (bir)