Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, Korea Selatan memiliki struktur ekonomi yang berbasiskan kegiatan dengan nilai tambah besar. Bahkan, sukses membangun ekonominya dari kegiatan sejenis, seperti industri manufaktur.
Apalagi, nilai tambah ini juga dilengkapi dengan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengolah inovasi yang cukup baik. Makanya, tak heran apabila beberapa perusahaan manufaktur asal negeri ginseng itu bisa melenggang ke kancah internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia menuturkan, upaya untuk lepas dari middle income trap pun tak lepas dari peran diaspora mereka di luar negeri. Bambang menyebut, diaspora memberikan kesempatan ekonomi untuk bertumbuh karena tak jarang diaspora membawa investasi baru dan inovasi ketika mereka pulang ke negaranya masing-masing.
Pertumbuhan ekonomi yang kencang, lanjut Bambang, tentu sangat berpengaruh agar negara berpandapatan menengah, seperti Indonesia bisa keluar dari middle income trap. Jika realisasi pertumbuhan ekonomi hanya di kisaran 5 persen per tahun seperti saat ini, bukan tidak mungkin Indonesia baru bisa keluar dari middle income trap pada tahun 2038 nanti.
Namun, jika pertumbuhan ekonomi bisa digenjot hingga 6,5 per tahun, maka Indonesia bisa keluar dari middle income trap lebih cepat atau pada tahun 2030 mendatang.
Adapun menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 21,28 persen dari komponen pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal II lalu berkutat di sektor ekstraktif, atau masih lebih besar dibanding industri manufaktur yang hanya 20,26 persen.
"Kami ingin pertumbuhan ekonomi maju, konsisten, dan pasti. Jika pertumbuhan dijaga 6,5 persen terus, kami yakin secara PDB, Indonesia bisa menjadi nomor 8 di dunia tahun 2045 mendatang," imbuh dia.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara bilang, Indonesia boleh saja belajar dari Korea Selatan. Namun, pemerintah pun tak boleh hanya terpana melihat angka pertumbuhan ekonomi Korea Selatan saja. Sebab, hal paling penting untuk keluar dari middle income trap adalah perbaikan struktur ekonomi.
"Pelajaran dari beberapa negara lainnya, seperti Korea Selatan, yang butuh waktu 40 tahun berubah dari negara miskin menjadi negara maju, kuncinya bukan hanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Konteks Indonesia untuk lepas dari middle income trap, sektor industrinya harus diperhatikan dan didorong. Jangan sampai deindustrialisasi atau penurunan sektor industri terhadap PDB terus berlangsung," pungkas Bhima.
Menurut data Bank Dunia, saat ini, pendapatan per kapita Indonesia mencapai angka US$3.570. Angka ini membaik jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar US$3.336.