Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, pemerintah masih akan mengkaji skema valuasi barang yang akan diperdagangkan antara komoditas perkebunan Indonesia dengan pesawat Sukhoi Rusia. Dengan demikian, perjanjian imbal dagang sukhoi masih menunggu proses valuasi.
Pemerintah Indonesia berkeinginan untuk membeli 11 pesawat SU-35 dari Rusia senilai US$1,14 miliar. Namun, untuk mendapatkan pesawat tersebut, Indonesia harus berhitung lebih cermat lantaran harga sejumlah komoditas tidak stabil, serta cenderung berfluktuasi di pasar global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengenai harga, kami masih open (terbuka). Kami akan melihat analisis proyeksi dari komoditas. Saya akan melibatkan para pemain CPO dan asosiasinya untuk membuat proyeksi pasar," tutur dia, Selasa (22/8).
Enggar menjelaskan, pesawat tempur Sukhoi akan menggantikan armada F-5 milik Indonesia yang sudah usang. Pemerintah menyiapkan sejumlah komoditas mulai dari kopi dan teh hingga minyak kelapa sawit dan produk-produk industri strategis pertahanan untuk ditukar dengan pesawat itu.
"Secara relatif, harga bisa kami kontrol. Karena Indonesia punya pangsa pasar CPO terbesar di dunia. Pada saat harga komoditas naik, saat itulah kami akan lakukan transaksi," terang dia.
"Karet, saya tidak mau kasih, karena ada kecendurungan harga karet terus turun. Kalaupun mau ya paling hanya crumb rubber," kata Enggartiasto.
Kementerian Perdagangan memiliki catatan perdagangan total antara kedua negara mencapai US$ 2,11 miliar dengan surplus untuk Indonesia sebesar US$ 411 juta pada 2016. Neraca perdagangan kedua pihak meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu US$ 1,9 miliar.