Ekonom Pefindo Ahmad Mikail mengungkapkan, faktor utama ramainya penerbitan surat utang di tahun depan lantaran imbal hasil (yield) obligasi pemerintah diperkirakan terus melandai hingga awal tahun depan.
Adapun, hal ini disebabkan karena tingkat inflasi yang diprediksi masih di kisaran 4 persen plus minus 1 persen dan peluang penurunan suku bunga acuan dari posisi saat ini 4,75 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesian Bond Pricing Agency (IBPA) melansir, spread antara yield obligasi korporasi dengan obligasi pemerintah dengan peringkat AAA mencapai 163,5 basis poin - 170,4 basis poin hingga semester I lalu. Angka ini diambil dari obligasi yang memiiki masa tenor antara 5 hingga 10 tahun.
Ia melanjutkan, penerbitan obligasi korporasi tahun depan juga dipicu oleh banyaknya obligasi yang jatuh tempo. Meski tak ingat angkanya, ia yakin obligasi jatuh tempo korporasi di tahun 2018 bisa melebihi tahun ini yang diramal Rp87,2 triliun. Dengan demikian, ada kemungkinan perusahaan bisa saja berbondong-bondong menerbitkan obligasi baru di tahun depan.
“Selain itu, kami juga melihat bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga didorong untuk menerbitkan obligasi tahun depan. Kami melihat, faktor ini juga bisa mendorong kenaikan jumlah obligasi tahun depan,” paparnya.
“Memang, secara tren seperti itu, kebanyakan perusahaan menunggu dulu sebelum masanya Pemilu,” ungkap Mikail.
Sekadar informasi, Pefindo meramal penerbitan baru obligasi di tahun 2017 tercatat Rp119,6 triliun. Adapun, hingga semester I kemarin, penerbitan obligasi baru mencapai Rp57,3 triliun, atau 47,91 persen dari ramalan akhir tahun nanti.