"Kami juga analisis perekonomian Indonesia dan perbankan yang masih konsolidasi," ujar Agus DW Martowardojo, Gubernur BI dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (22/8).
Menurut dia, konsolidasi perbankan terlihat dari kenaikan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) di angka tiga persen secara gross dan sebesar 1,4 persen secara netto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melengkapi Agus, Deputi Gubernur Senior BI Perry Warjiyo menjelaskan, setidaknya ada beberapa hal yang memengaruhi keputusan BI tersebut.
"Ini sejalan dengan kebijakan moneter ke depan yang sesuai dengan inflasi rendah," katanya.
Kedua, defisit transaksi berjalan (Current Account Defisit/CAD) diperkirakan terkendali di kisaran 1,5 persen sampai 2,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) sampai akhir tahun. Sedangkan di tahun depan di angka 2,0 persen sampai 2,5 persen.
"Ini lebih rendah dibandingkan batas defisit aman bagi Indonesia sebesar 3,0 poersen dari PDB," imbuh Perry.
Namun, rupanya hanya sekali di Desember dengan probabilitas yang lebih rendah. Sehingga, tekanannya lebih rendah terhadap Indonesia dibandingkan sebelumnya.
"Ini mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tapi, kami tetap butuh koordinasi dengan pemerintah terkait kebijakan fiskal dan Otoritas Jasa Keuangan untuk penyaluran kredit perbankan," pungkas Perry.