"Kedua belah pihak menyadari ada peningkatan permintaan batu bara untuk pembangkit listrik di kedua negara. Indonesia menyambut baik perusahaan Vietnam untuk mengimpor batu bara dari Indonesia dan berinvestasi di sektor pertambangan batu bara di Indonesia," ujarnya lewat siaran pers, Rabu (23/8).
Tak hanya soal batu bara, kedua negara juga sepakat untuk memanfaatkan gas di lintas batas negara. Hal ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM sejak Maret silam, yang dilanjutkan dalam pertemuan The 7th Indonesia - Vietnam Joint Commission on Economic, Scientific and Technical Cooperation (JC-ESTC) di Hanoi pada 12 Agustus 2017 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tujuan dari penandatanganan ini untuk memfasiltasi dan meningkatkan kerja sama bilateral di bidang pemanfaatan gas di wilayah lintas batas dan pemanfaatan batu bara untuk pembangkit listrik dengan azas persamaan dan saling menguntungkan kedua negara," kata Jonan.
Bangun Pelabuhan Batu Bara di Vietnam
Di waktu yang sama, PT Intra Asia Indonesia juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan pemerintah Vietnam untuk membangun pelabuhan di Vietnam Selatan. Pelabuhan tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi kebutuhan batu bara dari Indonesia ke Vietnam sebagai bahan baku pembangkit listrik di Vietnam.
Komisaris Intra Asia Indonesia Lutfi Ismail berharap, proyek senilai US$1 miliar ini mampu memperkecil biaya logistik batu bara dari Indonesia ke Vietnam. Selain itu, pembangunan juga bisa membantu perkembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Vietnam.
Menurut data perusahaan, Indonesia telah mengekspor lebih dari 1,5 juta ton batu bara ke Vietnam dan nilainya diprediksi akan bertambah menjadi 4,5 juta ton di tahun ini.
Berdasarkan data dari perusahaan operator listrik Vietnam, Electricity Vietnam (EVN), batu bara menyumbang 30 persen dari total listrik nasional yang mencapai 42 ribu Megawatt (MW).