Berdasarkan hasil penyidikan sementara, tersangka mengumpulkan data nasabah dari bagian pemasaran sejumlah bank sejak 2010 silam. Kemudian, tersangka menjual data itu secara gelondongan mulai dari Rp350 ribu hingga jutaan rupiah.
"Kami kerja sama dengan regulator untuk mencari sumber (kebocoran) dari mana apa leakage (kebocoran) dari back office atau front office," ujar Ketua Umum Perbanas Kartika Wirjoatmodjo di Graha Perbanas, Kamis (24/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mengimbau masyarakat dalam menggunakan e-commerce hati-hati dengan pendaftaran secara online. Jangan terlalu banyak punya data di banyak tempat," tutur Tiko mengingatkan.
Lihat juga:Penjual Data Nasabah Bank Ditangkap Polisi |
Namun, praktik pencurian data masih terjadi dengan menggunakan kedok perbankan. Untuk itu, masyarakat juga perlu berhati-hati dalam memberikan informasi pribadi. Industri dan regulator terus berupaya untuk memberikan sosialisasi terkait prinsip kehatian-hatian dalam memberikan informasi kepada masyarakat.
"Kadang-kadang, ada orang punya nomor telepon kita dan tahu kita menabung di bank yang mana, kemudian berpura-pura sebagai customer service bank untuk meminta pembaruan data," imbuh Tiko.
"Kami sosialisasi bahwa ke depan, semakin sedikit capturing data, sumber kebocoroan juga semakin sedikit," katanya.
Secara terpisah, Direktur PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sis Apik Wijayanto mengungkapkan, perseroan menjamin keamanan data keuangan nasabah.
Guna mencegah pemanfaatan data oleh pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab, perseroan melakukan seleksi dan verifikasi terhadap mitra merchant.
"Bagi BRI, setiap merchant kami seleksi dan verifikasi untuk tidak main-main dengan data nasabah," pungkasnya.