"Struktur biaya perlu kita transparansikan ke masyarakat. Jadi, masyarakat tahu," tutur Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso usai menghadiri sebuah acara di Jakarta, Selasa (29/8).
Wimboh mengungkapkan, komponen pembentuk suku bunga, tidak hanya sekadar biaya dana atau yang lebih dikenal dengan bunga simpanan. Perbankan juga harus menanggung biaya overhead, seperti sewa gedung, biaya regulasi seperti cadangan minimum di bank sentral, maupun margin risiko.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terciptanya efisiensi memang menjadi salah satu fokus OJK saat ini. Jika industri perbankan lebih efisien, Wimboh yakin, rata-rata suku bunga kredit bisa ditekan hingga ke level satu digit.
"Dengan teknologi bisa menurunkan biaya dan memberikan service yang lebih cepat," pungkasnya.
Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Mirza Adityaswara sempat mengkritisi industri perbankan nasional yang tidak efisien.
Mirza menyebutkan, CIR perbankan di Indonesia masih ada di kisaran 50 persen. Sementara, di negara tetangga kawasan ASEAN, rata-rata CIR perbankan ada di level 40 persen.
Kemudian, biaya operasional terhadap aset perbankan di Indonesia rata-rata masih tiga persen atau di atas industri perbankan negara tetangga yang ada di bawah dua persen.
Sebagai informasi, BI mencatat rata-rata suku bunga kredit per Juni sebesar 11,77 persen atau turun dibandingkan bulan sebelumnya 11,83 persen.