Seperti, meeting on board (rapat), study on board (belajar), tour on ship, venue pre-wedding (pra nikah), dan lain sebagainya. "Kami mengadakan di Jakarta, setiap Jumat ada sarapan pagi di atas kapal. Kami ajak komunitas dari luar untuk mengenalkan kapal," ujar OM Sodikin, Direktur Usaha dan Angkutan Penumpang Pelni, Minggu (3/9).
Fasilitas itu ditawarkan dengan memanfaatkan waktu-waktu port stay (berlabuh) dan port time kapal. Fitur-fitur layanan ini terbilang baru dan merupakan upaya perseroan menggali aktivitas usaha perkapalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Naik Kereta Pariwisata, Diskon Rp250 Ribu |
"Itu sudah terbentuk sejak 2015 lalu. Pertama kali itu ke Wakatobi. Kapal itu datang ke Wakatobi, dibuat akses, lalu sebagai akomodasi. Istilahnya hotel terapung," tutur Sodikin.
Lihat juga:Bandara Jember Diprogram Tuntas 2019 |
Jumlah Penumpang Turun
Pada Semester I 2017, jumlah penumpang Pelni turun tipis dua persen, yaitu dari 1.512.747 orang menjadi 1.486.791 orang. Penurunan jumlah penumpang tak terlepas dari ketatnya persaingan pasar transportasi.
Sodikin mengungkapkan, banyak masyarakat yang beralih menggunakan maskapai penerbangan bertarif rendah (low cost carrier). Ditambah lagi, maskapai tersebut menjangkau daerah-daerah potensial.
Lihat juga:Menerka Prospek Bisnis Ramayana ke Depan |
Apalagi, ada rencana membangun 15 bandara di kawasan timur Indonesia pada 2018 mendatang, yang merupakan pasar potensial perseroan.
Sekadar informasi, hingga tahun ini, sedikitnya empat maskapai penerbangan bertarif rendah, yaitu Lion Air, Wings Air, AirAsia, dan Citilink. Keempatnya membuka rute baru setiap tahunnya, menjangkau daerah-daerah yang sebelumnya hanya dikuasai oleh maskapai full service.
Dengan kondisi ini, Sodikin menyebutkan, mau tidak mau, Pelni harus berbenah diri agar tidak ditinggalkan pelanggannya. "Ke depan, masalah pelayanan menjadi prioritas utama. Mungkin, ke depan akan ada wifi di atas kapal," pungkasnya.