Direktur Utama Inalum Winardi Sunoto mengungkapkan, penurunan produksi ini disebabkan oleh penurunan permukaan air danau toba yang menghambat produksi listrik bagi pabrik di Kuala Tanjung.
Sebab, untuk menunjang operasi perseroan, listrik dialirkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Siguragura berkapasitas 203 Megawatt (MW) dan PLTA Tangga dengan besaran 223 MW yang memanfaatkan air danau toba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski volume produksi diprediksi tak sesuai target, namun ia berharap, kinerja perseroan bisa membaik seiring dengan kebangkitan harga aluminium. Adapun, saat ini, harga aluminium berada di atas US$2 ribu per metrik ton atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni US$1.600 per metrik ton.
"Berharap saja curah hujan ke depan semakin bagus," ungkapnya.
Saat ini, Inalum memiliki kapasitas peleburan aluminium sebesar 250 ribu ton per tahun dengan kapasitas intake sebesar 500 ribu ton alumina. Kapasitas ini rencananya akan naik ke angka 500 ribu ton per tahun dan mencapai produksi 1 juta ton pada 2025 mendatang demi memenuhi konsumsi aluminium dalam negeri yang diproyeksi 1,3 juta ton di periode tersebut.