"Contoh, untuk proyek jalan tol, kalau pekerjaan penyediaan batu dan besinya serta pasirnya dikerjakan oleh anak usaha dan cucu BUMN, apa itu tidak monopoli?" kata Ketua Umum HIPMI Bahlil Dahalia dalam Diskusi PB NU 'Mendorong Peran Swasta Untuk Lebih Partisipatif Dalam Pembangunan Infrastruktur', mengutip ANTARA, Selasa (12/9).
Konteks monopoli dalam hal ini, yakni jika bagian pekerjaan dengan angka tertentu bisa diserahkan kepada pengusaha nasional, itu harus diserahkan ke pengusaha lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya apakah HIPMI punya data dan contoh itu juga terjadi di sektor noninfrastruktur? Ia menunjuk untuk menanyakan hal tersebut kepada asosiasi terkait.
"Tujuan BUMN dibuat setelah merdeka kan, antara lain untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan merekrut tenaga kerja. Bukan malah mematikan pengusaha nasional," ujarnya.
Selain itu, BUMN dibuat bukan untuk membuat profit sebesar-besarnya. "Jadi, beda. Jangan filosofi dasar lahirnya BUMN dipelintir," tegas Bahlil.
"Kerja sama antar-BUMN juga itu kalau bisa memberikan ruang bagi pengusaha di daerah agar menjadi subyek dan obyek pembangunan ekonomi, sehingga mereka ikut memiliki infrastruktur," tutur dia.
Tren menurun
Saat menyampaikan paparan dalam diskusi itu, Bahlil menyebutkan, tren penyerapan tenaga kerja dari pembangunan infrastruktur sejak 2013-2016 bahkan menurun.
Sementara, data yang disampaikan pengamat ekonomi Universitas Indonesia Athor Subroto menjelaskan, data Bank Dunia ternyata peran swasta pada proyek infrastruktur di Indonesia hanya dua persen.
"Dibandingkan beberapa negara ASEAN sangat jauh, misalnya, Filipina yang mencapai hingga 44 persen," katanya.