Bisnis Batu Akik yang Tak Tergerus Musim

CNN Indonesia/Andry Novelino , CNN Indonesia | Rabu, 13/09/2017 21:15 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Berakhirnya tren batu akik membuat omzet para pedagang di Pasar Rawa Bening turun drastis. Sebagian akhirnya gulung tikar, sebagian memilih bertahan.

<p>Batu akik Bacan Doko dan Palamea yang masih menjadi primadona di tahun 2017. Berakhirnya tren batu akik, membuat omzet para pedagang batu akik di Jakarta Gems Center (JGC) Rawa Bening mengalami penurunan. Saat ini, pendapatan perhari mereka hanya Rp1 juta sampai 2 juta saja perhari. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Jakarta Gems Center (JGC) Rawa Bening yang saat ini merupakan pusat batu mulia modern terbesar se-ASEAN diresmikan pada 12 Mei 2010 oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Pasar modern batu mulia ini bermula dari sebuah pasar tradisional batu aji. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Banyak pedagang batu akik yang gulung tikar di JGC Rawa Bening akibat omzet yang menurun drastis seiring berakhirnya tren batu akik. Pasar batu akik kini lebih di dominasi oleh batu sintetis dan imitasi dari negeri Cina. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Seniman cincin Perak sedang menyepuh cincin pesanan pelanggan. Sebagian pedagang, seniman batu dan cincin yang tersisa kini terus berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari usaha mereka di Jakarta Gems Center, Rawa Bening. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Batu akik Bacan Doko dan Palamea yang masih menjadi primadona di tahun 2017. Saat ini, hanya beberapa jenis batu akik saja yang masih diminati pembeli. Selain Bacan Doko dan Palamea, Solar Aceh dan Pancawarna Garut juga masih diminati. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Tren batu akik kini mulai tergantikan oleh batu mulia seperti Ruby, Safir dan lainnya. Batu mulia yang dijual di JGC Rawa Bening kebanyakan import dari Myanmar, Afrika, Australia dan China. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Hilangnya musim batu akik di tahun 2017 tidak menyurutkan semangat para pedagang yang berjualan di emperan toko pasar Jatinegara. Pedagang menyiasati dagangan dengan batu imitasi atau batu yang mempunyai kadar campuran plastik dan batu asli. Harga jualnya pun terbilang murah berkisar Rp15 ribu hingga Rp30 ribu. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Yogi penyuka batu akik yang juga seorang guru tari tango ini, hampir tiap hari berburu batu akik murah meriah di kawasan pasar lama Jatinegara. Ia tidak memperdulikan keaslian batu akik. Asal suka, dia rela mengkocek kantongnya untuk membeli 5 sampai 10 batu akik tiap harinya. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Aldel Caniago, seorang pedagang batuk akik emperan di sekitar pasar Jatinegara lama yang masih bertahan. Ia memulai berdagang batu akik dari tahun 2014, profesi sebelumnya adalah pedagang jam tangan di tempat yang sama. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA