Mayoritas Perempuan Enggan Punya Jabatan Tinggi

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Kamis, 14/09/2017 14:07 WIB
Mayoritas Perempuan Enggan Punya Jabatan Tinggi Ilustrasi. (Thinkstock/Ingram Publishing)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) menyatakan, mayoritas perempuan memutuskan sendiri untuk tidak memiliki jenjang karir yang lebih tinggi guna menjaga keseimbangan kehidupan pribadi.

"Kalau dilihat perempuan bisa, tapi harus punya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work life balance)," ujar Pembina IBCWE, Shinta Kamdani, Kamis (14/9).

Semakin tinggi jabatan seorang perempuan di dalam perusahaan, maka mereka merasa semakin sulit untuk mengurus rumah tangganya. Padahal, tak jarang dari mereka yang memiliki potensi yang mumpuni.

"Jadi memang perempuannya yang tidak berkenan untuk menaikan jenjang karirnya," sambungnya.

Tak heran, komposisi perempuan yang menempati level teratas atau sebagai direktur utama suatu perusahaan hanya berkisar antara lima hingga enam persen dari total seluruh pemimpin perusahaan di Indonesia.

"Untuk entry level 47 persen dan level menengah 20 persen," ucap Shinta.

Lebih lanjut, CEO Sintesa Grup itu juga menjelaskan, total partisipasi angkatan kerja perempuan secara total sebenarnya lebih tinggi dibandingkan pria, yakni 51 persen. Artinya, perempuan masih memiliki potensi yang tinggi bagi kelangsungan ekonomi dalam negeri.

"Di sinilah peran sektor swasta untuk mewujudkan potensi ini menjadi sangat penting," paparnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Astratel Nusantara Wiwiek D. Santoso mengaku selalu menanyakan alasan karyawannya berhenti bekerja (exit interview). "Sebagian besar mereka tidak menemukan work life balance sampai titik tertentu. Mereka selalu katakan anak-anak masih kecil," ujar Wiwiek.

Ia pun memberikan nasehat kepada karyawannya untuk selalu memperbaharui informasi meski sudah tidak bekerja dan berharap akan kembali berpartisipasi di angkatan kerja perempuan Indonesia.

Wiwiek memaparkan, perusahaan memiliki program mentoring bagi karyawannya dalam hal pengembangan diri mereka masing-masing. Namun, ia memiliki fokus pada pengembangan perempuan dalam program mentoring tersebut.

"Saya juga selaku sebagai salah satu mentor, biasanya perempuan akan lebih terbuka dengan perempuan," ceritanya.

Menurutnya, induk usahanya, PT Astra International Tbk (ASII) sendiri dapat mempertahankan partisipasi perempuan hingga ke level eksekutif sebesar 13 persen. Wiwiek sendiri menjadi satu-satunya perempuan di Grup Astra yang berani mencapai level teratas.

"Tapi secara keseluruhan porsi perempuan di Astra Infrastruktur ada 34 persen. Saya mentoring mereka untuk tetap nyaman," katanya.

Adapun, Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK Jatmiko mengatakan, kesetaraan gender tak bisa dilakukan oleh satu lembaga. Setidaknya, hal ini harus didorong oleh tiga pihak, yaitu pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Ia menyebut, pemerintah bisa menetapkan kebijakan, memfasilitasi, mengatur, dan meningkatkan kinerja yang memiliki perspektif gender.

Kemudian, untuk swasta dapat menciptakan pekerjaan dan pendapatan yang adil bagi tiap gender, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan kesetaraan karyawan.

"Kemudian masyarakat bisa berpartisipasi aktif dalam mengontrol kebijakan pemerintah dan swasta," pungkasnya.


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA