Wakil Kepala SKK Migas Sukandar menjelaskan, biaya operasi semakin tinggi sebab makin minyak yang menyebur sudah semakin sedikit. Namun di sisi lain, depresiasi aset hulu migas juga makin membengkak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, ia juga bilang bahwa realisasi cost recovery di tahun ini kemungkinan akan lebih besar dibandingkan anggarannya. Realisasi cost recovery akhir tahun bisa mencapai US$10,7 miliar atau meningkat 1,94 persen dari target akhir sebesar US$10,5 miliar.
Tak hanya cost recovery, namun penerimaan negara dari sektor migas juga diperkirakan akan turun tahun depan. Sebab, pemerintah menurunkan target lifting ke angka 800 ribu barel per hari dari target tahun ini 815 ribu barel per hari.
SKK Migas mencatat, realisasi cost recovery hingga Juli lalu tercatat US$5,87 miliar atau 55,95 persen dari target 2017. Adapun cost recovery sempat meningkat US$1 miliar di Juli karena tambahan persetujuan biaya pengadaan dan konstruksi (Engineering, Procurement, and Construction/EPC) lapangan Banyu Urip sebesar US$200 juta.
Namun demikian, Badan Anggaran (Banggar) DPR RI menyetujui cost recovery sebesar US$10 miliar atau kebih kecil apabila dibandingkan keinginan regulator hulu migas tersebut.