Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi mengatakan, sebagian besar bea keluar ini akan disumbang dari sektor Mineral dan Batubara (Minerba). Aktivitas ekspor konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara masing-masing akan menyumbang bea keluar sebesar Rp1,25 triliun.
Dengan total Rp2,5 triliun, berarti bea keluar dari dua perusahaan itu akan menyumbang 83,33 persen dari rencana penerimaan bea keluar ekspor tahun depan. Sementara, sebesar Rp200 miliar akan disumbang dari ekspor nikel dan bauksit, dan sisanya dari komoditas lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, sektor minerba akan sangat berkontribusi sebab pemerintah tidak melihat bahwa komoditas minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) akan menyumbang banyak bagi bea keluar. Pemerintah masih melihat harga CPO masih akan di bawah US$750 per metrik ton atau ambang batas terendah pengenaan bea keluar CPO.
Oleh karenanya, tak heran jika tahun depan pemerintah menggantungkan asa kepada ekspor minerba. Bahkan, kontribusi ekspor minerba ini pun sudah terasa di tahun ini. Sebab, hingga Agustus tahun ini, bea keluar sektor minerba terbilang mendominasi total penerimaan bea keluar sebesar Rp2,26 triliun.
"Sebagian besar oleh Freeport dan Amman, kalau bauksit dan nikel masih terbilang kecil," pungkasnya.
Ekspor diperbolehkan, dengan catatan smelter bisa dibangun dalam jangka lima tahun ke depan, membayar bea keluar khusus, dan jika izin pertambangan adalah Kontrak Karya (KK), maka perusahaan tersebut harus mengubah izinnya menjadi IUPK.
Di sisi lain, penerimaan bea cukai sudah mencapai Rp92,6 triliun hingga Agustus 2017. Angka itu mencapai 48,96 persen dari total target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Penyesuaian (APBNP) 2017 sebesar Rp189,14 triliun.