Direktur Utama Bahana TCW Edward Lubis menyebutkan, RDPT sektor logistik akan diterbitkan senilai US$35 juta atau setara Rp460 miliar, sedangkan RDPT sektor infrastruktur jalan tol Rp1 triliun.
Secara rinci disebutkan, persiapan penerbitan RDPT proyek logistik diperkirakan rampung dalam satu hingga dua bulan ke depan, sedangkan RDPT proyek infrastruktur diharapkan terbit akhir 2017.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"RDPT yang logistik kemungkinan yield-nya di bawah 5 persen, untuk yang infrastruktur belum. Keduanya masih difinalisasi, pokoknya lebih kompetitif dibanding surat utang negara," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
Dana hasil penerbitan RDPT akan digunakan untuk mendanai proyek-proyek yang ditangani oleh perusahaan swasta. Portofolio investasi dasar keduanya berupa surat utang karena dinilai investor lebih menyukai yield tahunan.
Pada 2017, anak usaha PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) itu menerbitkan empat RDPT, termasuk dua produk baru yang sudah disebutkan.
Selain itu, satu produk untuk proyek infrastruktur yang sudah berjalan pada semester pertama. Terakhir, lanjutan RDPT proyek industrial senilai US$30 juta yang masih terus difinalisasi.
RDPT merupakan reksa dana yang ditawarkan secara terbatas kepada investor dengan kuota tertentu, dengan jaminan aset yang diagunkan berupa proyek di sektor riil. Penggunaan dana disalurkan untuk menmbiayai proyek tersebut.