"Tambahan pembiayaan utang tersebut memungkinkan kenaikan belanja produktif di bidang pendidikan, infrastruktur, kesehatan, transfer ke daerah dan dana desa, serta belanja sosial," mengutip DJPPR, Jumat (22/9).
Jika dirinci, sebagian besar utang pemerintah didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN), di mana akumulasi nilai penerbitan SBN tembus Rp3.087,95 triliun (80,7 persen dari total utang pemerintah) per Agustus atau naik dari posisi akhir bulan sebelumnya, yakni Rp 3.045 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikutnya, utang pemerintah juga berasal dari pinjaman yang berkontribusi sebesar 19,3 persen dari total utang per akhir Agustus 2016 atau sebesar Rp737,85 triliun, tumbuh dari posisi akhir Juli 2017 yang sebesar Rp734,98 triliun.
Berdasarkan krediturnya, pinjaman pemerintah pusat didominasi oleh sebagian besar berasal dari Bank Dunia, Jepang, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan lembaga lainnya.
Rasio itu masih lebih rendah dibandingkan negara tetangga di kawasan ASEAN seperti Malaysia (56 persen), Thailand (41,8 persen), dan Filipina (32,6 persen).
"Dalam pengelolaan risiko utang, pemerintah senantiasa melakukannya dengan hati-hati dan terukur, termasuk juga menjaga risiko pembiayaan kembali, risiko tingkat bunga, serta risiko nilai tukar dalam posisi yang terkendali," seperti tertulis dalam paparan DJPPR.